7/30/2010

Kaburnya Para Jablay Jatinegara

Jatinegara identik dengan stasiun tuanya, dengan pasar tumpahnya, yang diikuti kemacetan pada jam pulang kerja. Selama beberapa bulan ini, saya lihat, penjual hape lesehan juga makin marak di bagian timurnya lapak-lapak pakaian. Dengan penerangan sederhana, mereka membuka lapak kecil. Saya pernah merasakan bagaimana berjualan macam itu, meski berbeda komoditi. Deretan penjual hape lesehan ini mengingatkan saya pada pasar klithikan jalan mangkubumi Jogja, dahulu.
Selain memandanginya tiap pulang dan berangkat kerja, saya mencoba mencari tahu di Wikipedia. Nama Jatinegara, konon ceritanya, berasal dari kata Jatina Nagara yang berarti simbol perlawanan Kesultanan Banten terhadap kolonial Belanda saat itu. Rupanya, Jatinegara adalah salah satu pecinan besar di Jakarta. Wow, padahal, saya tidak sekalipun menjumpai ornamen-ornamen yang punya identifikasi dengan budaya Tiongkok. Barangkali bukan di sepanjang jalan yang saya lewati. Saya malah menemukan klenteng di samping terminal Kampung Melayu. Elok sekali. Di tengah keributan manusia-manusia terminal, ada bangunan yang sangat khas dan sekilas tampak indah (maklum, belum mencoba masuk).
Jatinegara 1955/bayugunanjar.files.wordpress.com
Jatinegara 1955/bayugunanjar.files.wordpress.com

Lebih ke timur lagi, berhadapan dengan rutan cipinang, rasanya tidak perlu saya kenalkan, ada pasar jablay. Dalam satu atau dua bulan belakangan, jalan dekat rel kereta ini juga mulai diserbu pedagang kakilima. Gerobak-gerobak mulai berderet-deret. Biasanya hanya penjual minuman dan rokok, kini sudah dirambah pula oleh pedagang buah asli dan buah yang itu (tapi yang ini sepertinya produk lama).
Saya pendatang di kota ini, hanya satu dari sekian “perusuh” yang dengan senang hati menambah padat ibukota. Dan, saya menikmati apa yang disajikan, untuk sementara waktu, oleh sang ibukota. Ya, termasuk seluruh pelacur di sini. Meski tak sekalipun menjajaki untuk mecoba dan merasakan, saya kira menarik juga untuk memahami keberadaan mereka.
Saya tidak tahu mekanisme pasar pelacur di Jatinegara ini. Mereka berdiri di tepi-tepi jalan. Pada mulanya saya kira mau menyetop angkot, tapi kok nyetopnya pakai paha terbuka begitu…. apa nggak bikin grogi sopir angkot? Setelah ikut curi-curi pandang, oooo rupanya ini toh. Luar biasa, berderet-deret mereka. Angkot yang saya tumpangi kebetulan, dan syukur alhamdulillah, selalu melewati jalan itu. Dan, rasanya semakin menarik saja. Makin hari makin ramai. Selain perempuan-perempuan itu, para pedagangpun bertambah dengan cepat, menandakan semangat berwiraswasta yang tinggi dari rakyat Indonesia.
Pelacuran atau prostitusi sendiri sudah punya sejarah panjang dalam peradaban. Upaya “mengahapus” mereka dilakukan sepanjang masa pula. Seolah mereka tumbuh bersama kemiskinan, sehingga upaya itu hanyalah sebuah drama sesaat. Meski banyak juga pelacuran high class. Saya sih tidak tahu banyak, kurang ahli lah dalam soal ini, perlu tambahan pelajaran sosiologi prostitusi satu semester.
Kadang saya dikagetkan juga oleh perempuan-perempuan spesial, spesial pakai telur, macam nasi goreng saja. Awalnya hanya beberapa pengendara motor yang merayu-rayu, juga bajaj, namun kemudian muncul juga gerobak-gerobak besi model avanza dan kawan-kawannya. Juga mobil patroli polisi yang ngetem di situ. Wah, makin semarak saja, pikir saya, pasar yang satu ini. Ada yang hanya lihat-lihat, ada yang merayu mati-matian, ada yang dirayu, ada yang sekadar iseng memegang pantat lalu melarikan diri dengan motornya (ini jenis pengecut yang mesti dienyahkan). Hingga, suatu malam, saya tak melihat mereka satupun!!! Wah, ini ada yang borongan atau bagaimana ya? Kok bisa habis begini, tidak menyisakan satupun buat saya…
Oh, rupanya ada razia!!! Saya jadi ingat, ini kan menjelang puasa. Dan, sepertinya sudah menjadi kewajaran kalau ada pembatasan pasar jablay pada bulan puasa. Iya kah? Atau mungkin yang di jalanan saja, yang tak bisa menyewa di lapak-lapak tersembunyi? Kabur kemana ya mereka?
Razia bukan hanya di Jakarta. Beberapa hari ini kita pasti akan menonton berita tentang razia pelacur (plis, jangan sebut wanita tuna susila! ini dunia nyata, bukan tempat bahasa berkuasa. soalnya, nanti ada maksud tersendiri). Kadang juga razia pengemis dan gelandangan (jangan pula sebut tuna wisma, ya!). Rasanya, tiap tahun terulang dan berulang. Padahal, mungkin saja kan suatu hari bung satpol pp juga ikut mengonsumsi, trus ketika pakai seragam mereka melakukan garukan…. hihihihi
Nanti, selama puasa tak akan kita jumpai paha-paha itu dipasarkan di sana. Selama sebulan, mungkin, mereka akan menderita kekurangan makan dan akomodasi hidup karena sumber pendapatannya menurun. Langkah terbaik adalah menyiapkan daftar nomer pelanggan. hahahahaha …
Lalu, setelah puasa, tentu memakai rentang waktu, mereka akan menjamur lagi. Hehehehe… Apa hanya akan demikian siklusnya?
Diledakkan Setelah Ditahan Sebulan
Barangkali suatu yang amat biasa, bahwa menjelang puasa hal-hal berbau selangkangan harus disingkirkan. Itu pula yang saya dapati dari dunia maya. Pada bulan puasa, tampaknya akses ke laman-laman berbau “SEX” itu juga kurang begitu menarik. Ada tren lembah, alias penurunan signifikan pada bulan puasa untuk pencarian dengan jata kunci “sex” menggunakan mesin pencari Google. Namun, yang tak kalah signifikan adalah lonjakannya setelah penurunan tersebut. Bukit dalam grafik itu seperti sebuah ledakan!
Grafik pencarian di Google Indonesia dengan kata kunci "sex", data dan grafik diambil dari Google Trends
Grafik pencarian di Google Indonesia dengan kata kunci "sex", data dan grafik diambil dari Google Trends
Betuk grafik di atas menunjukkan sebuah kecenderungan ‘pencarian’. Perhatikan bentuk bukit dan lembah yang nampak mencolok karena bentuk palung-nya berulang tiap tahun. Grafik turun, kemungkinan besar, terjadi selama bulan puasa. Sedangkan loncatan ke atas, terjadi setelah upaya menyembunyikan hasrat “sex”-nya itu. Wah, pertama melihat grafik ini saya tidaklah kaget. Pencarian dengan kata “sex” tampaknya juga meningkat tajam sewaktu berita mengenai ariel dengan karya kreatifnya beredar. Itu bisa di lihat di ujung.
Menjelang puasa ini, web-web yang bisa ditemukan dengan kata kunci “sex” akan kekurangan pengunjung. Namun, akan ada ledakan setelahnya. Tanda-tanda macam ini sebenarnya bisa dimanfaatkan. Kalau anda pengin kunjungan yang tinggi, gunakan kata “sex” selain pada bulan puasa, lebih pas lagi pada bulan syawal. Apapun isinya. Juga bagi pengiklan.
Namun, sebenarnya Anda sekalian tidak usahlah mempercayai grafik itu. Itu hanya sebuah kenyataan. Kenyataan bukanlah hal yang selalu ada di dalam pikiran, artinya saudara kadang bisa menghindari kenyataan dengan tidak memikirkannya. Cobalah. Kalau masih belum bisa, coba lagi. Kalau gagal, saya meragukan kemampuan Anda untuk mencoba…. hehehehehe
Sementara pencarian dengan kata kunci “puasa” mengalami hal yang lebih ekstrim. Jika ini pencarian mengenai pelajaran puasa, tentu puasa hanya dicari di bulan puasa. Orang mungkin melupakan puasa di luar bulan puasa. Itu seolah biasa, ataukah memang harus biasa.
Grafik pencarian dengan kata kunci "puasa"
Pelacuran tampaknya diabadikan oleh faktor laki-laki.

Tidak ada komentar: